Di atas Kertas Putih
Hari ini kelasku kosong. Sepi tanpa penghuni. Tapi, di sudut kelas ada seseorang yang sedang sibuk menulis. Dia adalah Syifa Angraini. Seorang puitis asal Australia. Dia cantik, pendiam dan juga pintar. Pelan-pelan aku menghampirinya.
“Hai, Syifa. Kenapa kamu belum pulang ?” tuturku kepada Syifa. “Hai juga, Andre. Aku masih ingin mengeluarkan inspirasi yang ada di benakku Ndre” jawab Syifa tanpa menoleh sedikitpun kepadaku.
Tak lama kemudian, aku dan Syifa angkat kaki dari kelas itu. Syifa telah ditunggu oleh supirnya dan begitu juga aku. Kami pulang. Dan ditengah perjalanan, aku melihat seorang remaja yang sedang mengamen dengan gitar kecil. Wajahnya lugu dan bajunya sangat kumuh. Walaupun hanya sekilas aku melihat remaja itu. Rasanya aku telah kenal lama dengannya.
10 menit perjalanan pulangku. Aku sampai dirumah. Aku mandi dan makan siang. Setelah aku makan, aku menemui ibu. Dan aku menceritakan remaja yang tadiku lihat di tengah perjalanan kepada ibu. Saat aku asyik membahas remaja itu. Tiba-tiba ayah pulang dari kantor dengan baju yang berlumuran darah. Aku dan ibu sangat heran.
“Ayah, mengapa baju ayah berlumuran darah ? Apa yang terjadi ayah ?” Ibu bertanya kepada ayah. “ Tadi ayah menabrak seorang pengamen di terminal dekat kantor bu. Sekarang pengamen itu sudah dirawat di rumah sakit bakti bu. Ayah tidak sengaja menabraknya. Ketika handphone ayah berbunyi. Ayah mengambil handphone ayah di dalam tas. Dan tiba-tiba ayah lepas kendali dan menbrak seorang pengamen yang hendak menyebrang bu” jawab ayah dengan perasaan menyesal.
Setelah ayah menceritakan kejadian yang terjadi pada ayah. Kami bersiap-siap pergi ke rumah sakit bakti tempat pengamen itu dirawat. Setibanya dirumah sakit, ayah menanyakan bagaimana keadaan pengamen itu kepada dokter.
“Pak dokter, bagaiman keadaan anak itu sekarang? Apakah ada luka serius pada tubuhnya?”
Dokter menjawab, “anak itu tidak apa-apa sekarang. Dia hanya mengalami luka dalam dibagian dadanya. Tepatnya pada paru-paru anak itu. Paru-parunya sedikit berlubang. Tapi, apabila paru-paru itu tidak dijaga kesehatannya. Anak itu bisa meninggal dunia”.
Ayah panik. Dan ibu berkata pada ayah “bagaimana setelah anak itu keluar dari rumah sakit kita angkat menjadi anak kita ? Sebagai rasa pertanggung jawaban. Apalagi sepertinya anak itu tidak memiliki keluarga”.
Ayah setuju dengan ungkapan dari ibu. “Ibu, ternyata anak itu adalah remaja yang aku ceritakan tadi bu. Itu dia pengamen yang ditengah jalan tadi” ujarku kepada ibu. Ibupun menatap iba kepada anak itu.
3 hari sudah anak itu dirawat. Dan akhirnya anak itu pulang. Kami membawa anak itu pulang kerumah kami. Diperjalanan, kami berbincang-bincang dengannya. “Namaku Kelvin om, tante” katanya kepada ibu dan ayah. “Aku Andre Saputra. Anak dari mereka” ujarku padanya.
Ternyata Kelvin memang tidak punya keluarga lagi. Dia hidup melarat sebagai pengamen jalanan. Kini umur kelvin sudah 15 tahun. Ketika Kelvin berumur 14 tahun, kelvin sudah tidak lagi bersekolah. Karena, kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Tapi, sekarang Kelvin sudah punya tempat tinggal dan keluarga. Kami menjadi kakak adik dan kami satu sekolah.
Hari pertama Kelvin masuk sekolah. Semua teman-teman dikelasku menanyakan siapa Kelvin dan dari mana asalnya. Aku menjawab semua pertanyaan dari teman-temanku. Herannya, hanya satu orang temanku yang tidak open dengan Kelvin. Yaitu Syifa. Dia sama sekali tidak ada bertanya kepada ku. Tapi tidak apalah. Aku memaklumi hal itu. Orang selugu dan secantik dia tak mungkin mau sibuk dengan hal yang tidak penting begitu.
Jam istirahat telah berbunyi, semua teman-temanku keluar dari kelas untuk memanfaatkan waktu yang singkat untuk istirahat. Dia lagi, dia lagi. Hanya Syifa yang duduk manis disudut kelas. Seperti biasa, dia menulis puisi yang selalu memukau semua orang. Dengan kepintarannya, dia memanfaatkan semua kosakata yang dimilikinya untuk membuat puisi.
Tiba-tiba Kelvin masuk kedalam kelasku. Kelvin duduk disebelahku. Kami berbincang-bincang masalah belajar mengajar pada itu. Ketika kami berbincang-bincang. Syifa langsung respon saat Kelvin berbicara. Syifa menatap heran kepada Kelvin. Aku tak tahu apa yang ada difikiran Syifa. Dan aku tidak perduli itu. Karna, bagiku itu hal yang sangat tidak penting.
15 menit telah berlalu, waktu istirahat telah habis. Kelvin kembali kedalam kelasnya. Dan 45 menit kemudian bel pulang berbunyi. Waktunya pulang. Ketika aku memasukkan buku pelajaranku kedalam tas. Syifa lewat disampingku dan memberikan surat yang berwarna pink dengan tulisan for Andre. Aku tidak tahu apa isi surat itu. Setelah Syifa keluar dari kelas. Aku membaca surat itu. Surat itu berisi puisi yang sangat romantis. Namun sayang, karna aku sudah terlanjur benci kepada Syifa. Aku membuang surat itu kedalam tong sampah. Lalu, aku pergi menuju mobil dan saat aku masuk mobil. Kelvin mengambil surat itu tadi dan membawanya pulang.
Kami telah sampai dirumah. Aku masuk kamarku dan Kelvin masuk kamar Kelvin. Didalam kamar, kelvin membaca surat tadi. Didalam surat itu terdapat kata perintah untuk membalas puisi dari Syifa. Kelvin heran, mengapa aku membuang surat itu. Tanpa fikir panjang, Kelvin membalas puisi itu dengan kertas berwarna biru.
Beberapa hari telah berlalu, setiap hari kelvin dan Syifa berbalas-balasan puisi melalui loker mejaku. Anehnya, Syifa tidak tahu bukan aku yang membalas puisinya itu. Tapi Kelvin. Suatu saat Syifa duduk disampingku. Kali ini Syifa terlihat sangat berbeda. Rambutnya tidak lagi dikepang dua dan caranya berbicara tidak lagi seperti seorang remaja yang lugu. Semua perubahan yang di alami syifa terjadi setelah dia mengirim puisi kepadaku.
“Andre, kamu tahu tidak. Puisi kamu itu menyentuh sekali. Sampai-sampai aku berubah seperti ini”.
Itulah kalimat pendek yang diungkapkan syifa kepadaku. Tapi aku tetap tidak peduli dengan kata-kata itu. Tak lama dari itu. Terdengar pengumuman dari meja piket. Bahwa, sekolah ku akan mengadakan lomba puisi. Temanya bebas dan pendftaran dimulai pada saat itu juga sampai besok. Karena, lomba akan diselenggarakan pada hari Rabu, jam 09.00 WIB. Syifa langsung meninggalkanku dan dia menuju ruang pendaftaran.
Ketika sampai diruang pendaftaran. Ternyata Kelvin juga ikut mendaftar. Aku tidak menyangka. Tapi itu sangat bagus. Hampir 50% siswa disekolahku yang mendaftar sebagai peserta lomba. Antrian panjang pasti akan sangat membuat Kelvin dan Syifa lelah. Pendaftaran ditutup setelah jumlah peserta mencapai 100 siswa.
Hari Rabu telah tiba. Seluruh peserta mengikuti lomba dengan tertib. Dan hari tiu juga pengumuman pemenang di umumkan. Juara 3 adalah Sisy Revlina, Juara 2 adalah Syifa Angraini, dan Juara 1 adalah Kelvin. Orang tua dan semua teman-temanku tidak menyangka. Bahwa Syifa si puitis terkalahkan oleh Kelvin.
Ayah dan ibu sangat bangga kepada Kelvin. Mulai hari itu, aku merasa ayah dan ibu tidak adil lagi padaku. Padahal Kelvin hanyalah anak angkat. Aku anak kandung, tapi sekarang ayah dan ibu lebih sayang dan perhatian sekali kepada Kelvin. Begitu juga dengan Syifa, baru saja Syifa mencoba mendekatiku. Tapi sekarang Syifa mulai menjauh dariku dan dia lebih memilih Kelvin. Aku tahu aku memang tidak sehebat Kelvin. Aku hanya pandai bermain gitar dan bernyanyi saja. Sedangkan kelvin, dia adalah siswa baru yang sangat puitis sekali dalam berkarya.
Semenjak perlombaan itu, semua kehidupannku berubah menjadi suram. Tak ada lagi orang yang open kepadaku. Orang tua ku, teman-temannku, juga Syifa. Mereka semua jauh dari kehidupannku. Karena mereka menganggapku si keren yang terkalahkan.
1 tahun telah ku lalui semua itu. Tanpa senyuman dan kasih sayang yang aku harapkan. Hari-hari yang selalu saja tak berarti dan tidak ada harapan hidup sedikitpun. 3 hari lagi ujian nasional akan dilaksanakan. Aku belajar dengan giat dan berharap akan lulus dengan nilai tertinggi di sekolahku.
Ujian telah berlalu dan ketika ujian telah selasai. Pengumuman kelulusan keluar. Tercantum di mading sekolah. Aku sangat senang, ternyata nilai ujian nasional yang tertinggi disekolah tercantum namaku. Aku pulang dan memberitahu kepada ayah dan ibu. Tapi, ayah dan ibu hanya berkata “selamat sayang, akhirnya kamu bisa membuat kami bangga”. Kata itu sangat muak aku dengar. Seperti tak pernah aku membanggakan orang tua ku selama ini. Padahal, Kelvin baru 1 kali dapat Juara 1 dalam perlombaan. Tapi ayah dan ibu sudah sangat bangga. Sedangkan aku, aku selalu memenangkan lomba vocal solo dan model di setiap perlombaan besar disekolah. Dan sekarang nilai ujian nasionalpun aku yang tertinggi. Tak lagi ada harapan hidupku. Dengan keadaan yang seperti ini.
Kini aku memutuskan untuk pergi. Sebelum aku pergi. Aku akan mencurahkan luka yang harus ku ungkapkan di atas kertas putih ini.
Di setiap hela nafas ini, engkau selalu aku rasakan..
Di setiap denyut nadi ini, engkau selalu mengalirkan kehangatan..
Dan di setiap hari-hari ini, engkau yang selalu memberi ku arti sebuah kehidupan..
Tapi..
Mengapa kini engkau berubah..
Tak ada lagi kehangatan yang aku rasakan..
Tak ada lagi makna yang engkau berikan..
Dan tak ada lagi harapan untuk maju kedepan..
Waktu yang terus berputar..
Hari yang terus berganti..
Dan air mata yang selalu mengalir..
Aku tak ingin menggoreskan tinta lebih banyak lagi..
Cukup kertas putih yang berisi sedikit penjelasan ini..
Ayah, Ibu..
Engkau yang akan selalu ada didalam hati ku..
Dan selamanya dibenak ku..
Selamat tinggal ayah dan ibuku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar